Showing posts with label Mozart. Show all posts
Showing posts with label Mozart. Show all posts

Monday, January 10, 2011

PMS XLII - Senin, 9 Agustus 2010 pukul 9:45






Vladimir HOROWITZ



Audio:

Chopin – BALLADE no.1 Op.23, G minor

Schumann: TRĂUMEREI (dari Kindrszenen op.15)

Horowitz BEBERAPA VARIASI atas “Carmen”- Bizet


Video:

Mozart KONSERTO PIANO DAN ORKES no.23 KV.448, A mayor.

Bersama Orkes La Scala, di Milan (Itali) pimpinan:

Carlo Maria Giulini



Kita semua tahu Träumerei-Schumann, dan banyak yang bisa memainkannya, karena lagunya “e n a k’ dan cukup gampang.

Maka kita akan mendengarkan permainan pianis Horowitz, bagaimana yang “g a m p a n g” itu berubah menjadi lebih menarik lagi. Karena Horowitz tidak hanya sekadar memainkan not-notnya yang di partitur saja, yang sulit justru bagaimana memahami yang tersembunyi di balik not-not itu, sekalipun temponya lambat.

Banyak yang mengira tempo lambat itu mudah dimainkan, karena itu sering kita “s i l a u” oleh anak-anak kecil yang sudah bisa main cepat tanpa salah. Selalu ada yang perlu ditanyakan: ‘musiknya mana?’

Ballade-Chopin, juga menarik kalau kita punya kesempatan untuk bisa membandingkan bagaimana para pianis menafsirkannya dengan berbagai cara. Chopin sendiri pernah mengatakan bahwa dia tidak akan memainkan suatu karya dengan cara yang selalu sama.

Ada perbedaan antara permainan yang hidup dan hasil rekamannya.

Ini sama saja dengan masalah seseorang dan fotonya.

Horowitz (1903-1989=86 th) sebenarnya ingin jadi komponis, Variasi-variasi yang dibuatnya atas salah satu tema opera CARMEN-Bizet, membuktikan kemampuan yang dicita-citakannya.

Sebaliknya, dalam memainkan Konserto-Piano Mozart, dia tidak membuat ‘kadensa’ sendiri, melainkan memainkan kadensa yang dibuat oleh Busoni. Pada zaman Haydn dan Mozart, pemain itu tidak hanya bisa main tapi juga ditantang untuk membuat kadensa sendiri. Kemudian Beethoven menetapkan: pemain hanya main saja jangan coba-coba bikin sesuatu yang diluar kemampuannya !

Video yang kita lihat nanti, memperlihatkan Horowitz dan orkes sedang dalam proses membuat rekaman. Perhatikan Horowitz main dengan bantuan partitur. Apa artinya ini ?

Slamet A.Sjukur

PMS XLI - Senin, 19 Juli 2010 pukul 9:45




M O Z A R T

Seperti yang diceriterakan Antonio Salieri.

(Bagian terakhir dari film AMADEUS yang kita lihat bulan lalu)


Pada bagian terakhir ini, muncul orang bertopeng menyeramkan

mendatangi Mozart pesan sebuah missa requiem (musik untuk menghormati orang mati) dan memberi uang muka sangat mahal.

Firasat akan kematian Mozart sendiri ?

Tapi Mozart mendapat tekanan lain, untuk segera menyelesaikan opera-murahan, sekalipun tanpa ada uang muka ! (perlu diketahui bahwa seorang komponis butuh waktu lama untuk mengarang yang perlu konsentrasi penuh, artinya selama itu dia tidak mengerjakan hal lain dan tidak ada pemasukan uang, maka perlu uang muka sebagai jaminan hidup selama itu).

Terjepit berbagai tekanan, istri dan anaknya terlantar, mertuanya marah bukan kepalang. Mozart putus asa dan sekaligus menghadapi mertuanya yang membentak-bentak itu menjadi ilham membayangkan soprano-coloratura yang sedang menyanyi di opera yang sedang dipikirkan!

Bagi seorang jenius seperti Mozart, apa saja bisa menjadi ilham. Bahkan pada zaman itu dia sudah menggunakan bunyi sehari-hari—misalnya bunyi orang menyapu—sebagai bagian musiknya (sementara pada tahun 2004 orang dibuat tercengang oleh kelompok STOMP OUT LOUD yang membuat musik dengan balai, tong kosong, ember dll).

Akhirnya dalam keadaan yang sudah sangat lemah, Mozart di tempat tidur masih terus menggarap pesanan missa requiem. Dia hanya bisa mengerjakan di dalam kepalanya, dan mendiktekannya pada Salieri yang sering kuwalahan menuliskannya karena tidak bisa mengejar pikiran Mozart yang begitu cepat.

Ajal tidak bisa ditawar untuk menunggu missa selesai.

Salieri dirawat di rumah sakit-jiwa.


[2]

W.A.MOZART

Konserto Piano A mayor no.23 K.488

3 INTERPRETASI BERBEDA oleh 3 PIANIS:


Maurizio Pollini (bersama WIENER PHILHARMONIKER pimpinan Karl Böhm).

Clara Haskil (bersama WIENER SYMPHONIKER pimpinan Paul Sacher).

Vladimir Horowitz (bersama ORCHESTRA DI SCALA pimpinan Carlo Maria Giulini).


Ketiga pianis tersebut sama hebatnya dan berbeda satu sama lain.

Adakah kriteria mutlak untuk menentukan siapa no.1, no.2, no.3 ?

Sebaliknya sampai sejauh mana interpretasi bisa bebas ?

Dalam acara kali ini, hanya diperdengarkan seorang pianis saja, pada 9 Agustus, akan diperdengarkan semuanya dan dibahas.

PMS XL - Senin, 14 Juni 2010 pukul 9:45

M O Z A R T

Kita kenal musiknya dan tentang dia melalui buku-buku. PMS bulan ini mengajak anda melihat sendiri orangnya, Mozart sebagai manusia sehari-hari yang polos, lucu, tidak terlalu peduli peraturan dan suka-dukanya menghadapi kebodohan dan kesombongan orang-orang kaya.

Dengan berjalannya waktu, apakah kebodohan dan kesombongan seperti itu sudah tinggal menjadi kenangan sejarah saja ? Apakah kita sekarang lebih beradab ?

Dari segi teknologi, kita hidup jauh lebih maju dari Mozart yang hanya berusia 35 tahun itu (1756-1791. Sekarang ini di mana-mana ada tempat untuk belajar musik, terbuka kesempatan luas untuk siapa saja.

Jumlah komponis yang hebat, semakin banyak: Beethoven, Wagner, Debussy, Messiaen, Ligetti, dsb. Tapi di samping itu juga tidak sedikit sisi negatifnya.

Yang negatif, misalnya kemampuan kita dalam musik dibandingkan dengan Salieri, komponis yang merasa disaingi Mozart.

Salieri hanya dengan membaca partitur Mozart, dia langsung mengerti keluar-biasan musiknya. Bagi seorang Salieri, partitur musik itu bukan sekadar kertas berisi not-not balok, melainkan seperti pintu-gerbang yang menyuarakan musik yang tersembunyi di baliknya.

Sementara banyak diantara kita yang baru bisa mendengar musiknya kalau dimainkan di piano. Ini suatu tanda betapa sangat memperihatinkannya pelajaran musik sekarang ini.

MUSIK mestinya bukan sekadar pelajaran, melainkan pendidikan. Juga ada perbedaan antara sekadar mendengar (secara pasif) dan mendengarkan (yang meng-aktif-kan rasa dan seluruh kemampuan intelektual).

Dalam acara M o z a r t nanti, kita juga menyaksikan alam pikiran Mozart. Dia suka bermain billiard sendirian, karena dengan itu dia merasakan geometri yang hidup; menyodok bola dengan tenaga dan sudut-pantulan yang diperhitungkan, untuk mencapai sasaran tertentu.

Mozart juga suka berbicara dengan membalik-balik susunan hurufnya, sehingga orang terpaksa memeras otak untuk mengertinya. Ini berkaitan dengan teknik komposisi musik yang memungkinkan sebuah melodi bisa dibuat mundur urutan nada-nadanya, juga bisa dibalik arahnya (yang naik dirubah menjadi turun dan sebaliknya), bahkan mundur terbalik !!!

PERTEMUAN MUSIK SURABAYA berusaha mengangkat berbagai persoalan penting yang biasanya tenggelam oleh hal-hal rutin yang tidak tertarik pada perkembangan jaman.


Thursday, January 6, 2011

PMS V - Senin, 28 Agustus 2006 pukul 10:00










  1. Permainan Duet Piano : SCARAMOUCHE (D. Milhaud) oleh Mira Veronica & Krisna Setiawan

  2. Permainan Duet Piano : Konserto Piano no 23 KV 488 (W.A. Mozart) oleh Ang Hui Li & Lydia Lie

  3. Permainan Piano : Prelude & Fugue (J.S. Bach) oleh Halifa


PMS III - Minggu, 21 Mei 2006 pukul 14:30









  1. Permainan Duet Piano: Konserto Piano Mozart no 23 KV 488 oleh Ang Hui Li & Lydia Lie

2. Membahas DVD musik: Konserto Piano Mozart no 23 KV 488 oleh Vladimir Horowitz (Orchestra of La Scala Milan, conductor: C. Maria Giulini)