Pertemuan Musik Surabaya berdiri sejak 1957. Setiap bulannya menyelenggarakan acara yang cerdas dalam suasana yang santai dan bersahabat. Terbuka untuk siapa saja yang bersedia menyumbang Rp.35.000,- (umum) atau Rp.25.000 (pelajar/mahasiswa) untuk biaya fotokopi. Email : pertemuanmusiksurabaya@gmail.com. Info acara : Wisma Musik Melodia (031-5025309), Siska (08175174696) atau Gema (08179319262)
Friday, December 2, 2011
Tuesday, November 8, 2011
Wednesday, October 12, 2011
Tuesday, September 13, 2011
Thursday, June 16, 2011
Sunday, May 22, 2011
PMS ke-49, Senin 13 Juni 2011, pukul 9:45
Acara Senin 13 Juni 2011
09.45 tepat – 13.00
Bach – Debussy – Chick Corea – Tan Dun
untuk piano
dan
Analisa oleh Slamet A.Sjukur
seluruh partitur dan analisanya
disediakan bagi yang memberitahukan kehadirannya
paling lambat hari Jumat 10 Juni 2011 pada:
telpon: 502.5309
1
Tan Dun: MEMORIES IN WATER COLOUR
Missing Moon
Floating Clouds
Grasiavita Tanuwidjaja
2
Bach: WOHLTEMPERIERTE KALAVIER II no.9
Prelude dan Fuga E mayor
Irine Susanto
3
Chick Corea: CHILDREN SONGS
No.6 dan No.16
Grasiavita Tanuwidjaja
4
Debussy: EN BATEAU (Dalam Perahu)
untuk 4 tangan
Renata Gondomartono dan Ang Hwie Lie
Tuesday, May 3, 2011
Monday, April 4, 2011
Monday, March 14, 2011
PMS ke-46, Senin 14 Maret 2011, pukul 09:45
Water Concerto - Tan Dun
Selama ini kita tahu musik Orkestra dengan instrumen-instrumennya yg umum dipakai. Pada Orkestra yg lebih modern, komponis menambahkan instrumen-instrumen lain yang tidak lazim pada jaman sebelumnya.
Kita akan melihat komposisi karya Tan Dun - Water Concerto yang dimainkan thn 2007 oleh Stockholm Royal Philharmonic Orchestra, dengan memanfaatkan air sebagai bunyi baru.
Memakai alat sehari-hari sebagai instrumen musik memang bukan barang baru, bahkan seniman musik asal Bandung, Dodong Kodir, sudah membuat berbagai instrumen musik dari barang bekas sejak puluhan tahun lalu dan telah ditampilkan sampai ke benua Eropa.
Ada satu alat menarik yg disebut waterphone, berbentuk mirip sangkar burung, dalamnya diisi sedikit air, untuk memainkannya dengan digesek seperti biolin pada "jeruji sangkar"nya atau dipukul dengan telapak tangan pada bagian pantatnya untuk menimbulkan suara seperti kendang. Alat ini diciptakan oleh Richard Water, kita tidak tahu apakah waterphone diambil dari nama pembuatnya atau karena berisi air.
Tan Dun sebagai komponis, tidak hanya mementingkan bunyi, tetapi juga penataan cahaya dan aksi teatrikal dari para pemain instrumen airnya yg berjumlah 3 orang (1 org sebagai solois) untuk membuat pertunjukan lebih menarik.
Pertunjukan audio-visual seperti ini,tentu saja jadi tidak efektif jika hanya direkam dalam bentuk cakram-audio.
Alternatif lain, dengan teknologi musik-komputer saat ini yang bisa menciptakan efek-efek suara apa saja termasuk air, peran peralatan ber-air ini dpt digantikan sehingga para pemain tidak perlu berbasah-basah. Ini banyak kita ditemui pada musik elektro-akustik misalnya.
Krisna Setiawan



